Akhlak Dalam Mencari Ilmu

Dalam pandangan Islam, ilmu merupakan kumpulan sistematis sejumlah pengetahuan tentang alam semesta yang diperoleh melalui kegiatan berpikir. Dalam Islam, basis ilmu adalah pikiran, maka hal itu erat kaitannya dengan manusia sebagai makhluk paling sempurna dengan diberi anugrah akal untuk berpikir. Melalui karunia akal pikiran itulah sebagai bekal dalam mengarungi hidup dan kehidupan manusia. Manusia tidak dapat bertahan hidup tanpa ilmu atau berpikir dan ilmu tidak akan terwujud dan berkembang tanpa peranan manusia.

Ilmu memiliki berbagai manfaat bagi manusia dalam kehidupan sehari-hari yang berfungsi sebagai pemersatu. Dalam Al-Qur’an banyak ayat yang menyuruh untuk berpikir, memperhatikan tentang penciptaan langit dan bumi, dan Al-Qur’an bersifat umum dan global. Ini memberikan indikasi bahwa Islam merupakan agama yang bersifat universal dan sesuai dengan akal sehat, Islam dapat dianut oleh bangsa manapun. Kemudian setiap muslim harus berusaha membangun kembali peradabannya, dengan berpegang teguh pada wahyu Ilahi, sebagai sumber segala sumber pegangan hidup.

Ilmu sebagai kawan komunikasi atau dialog. Manusia dapat dikatakan ada dan diakui keberadaannya bila dia berpikir dan juga berdialog. Dalam hal ini, kedudukan dan aktivitas manusia adalah dinamis yang akan senantiasa berkomunikasi dengan lingkungannya secara kritis, inovatif, kreatif dan mengutamakan kehormatan ilmu serta kemanusiaan.

Manusia memiliki kepribadian unggul dan mulia dapat diwujudkan jika manusia memiliki ilmu. Melalui ilmu, manusia akan mampu mengetahui dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya. Dengan ilmu pula, manusia dapat menjaga harkat dan martabat sebagai khalifah di bumi.

Terkait dengan tujuan hidup manusia, baik di dunia maupun di akhirat, ilmu sangat berperan dalam mewujudkannya sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa yang ingin mendapatkan kesuksesan hidup di dunia dituntut untuk menguasai ilmu pengetahuan, dan barang siapa yang ingin mendapat kebahagiaan di akhiratnya dituntut untuk menguasai ilmu pengetahuan, dan barang siapa yang ingin mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan keduanya juga dituntut untuk menguasai ilmu pengetahuan”.

Ibnu Mas’ud pernah berkata, “Kamu wajib memiliki ilmu karena tidak ada seseorang yang lahir sudah berilmu, tetapi ilmu itu hanya dapat diperoleh dengan belajar”. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an yang isinya menjelaskan tentang keutamaan atau keilmuan ilmu serta kewibawaan orang yang berilmu sebagai berikut:

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَءَامَنُوْامِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَتٍ

Allah mengangkat orang-orang yang beriman dari golonganmu dan juga orang-orang yang dikarunia ilmu pengetahuan hingga beberapa derajat.

(QS. Al-Mujadilah [58]:11)

Belajar dan mengajar ilmu sama pentingnya. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Orang mukmin yang merasa tidak mempunyai ilmu wajib menuntut ilmu. “Seseorang tidaklah akan dilahirkan dalam keadaan pandai. Jadi ilmu pengetahuan itu pastilah harus di usahakan dengan belajar”. Jika dalam hidup dan kehidupan di dunia ini tidak ada ilmu, manusia kehilangan arah panutan dalam berperilaku sehingga hidupnya seperti binatang.

Islam mendorong umatnya untuk menuntut ilmu sepanjang hidupnya, selama masih memiliki waktu dan kesempatan, meskipun harus merantau ke negeri yang jauh. Dengan demikian, segala macam ilmu boleh dicari dan dipelajari asalkan tidak bertentangan dengan syari’at dan tentunya dapat mendatangkan manfaat bagi dirinya, dan bagi orang lain.

Agar ilmu yang diperoleh dapat bermanfaat, maka dalam menuntut ilmu harus sesuai dengan tuntunan agama. Proses pembelajaran hendaklah dilakukan secara jujur. Artinya, dalam menuntut ilmu, orientasi yang dikedepankan bukan sekadar untuk memperoleh nilai yang setinggi-tingginya, dengan cara mengabaikan akhlak (misalnya berlaku curang dalam ujian, menyontek, atau mengelabui guru). Sebab Islam tidak semata-mata mengharapkan orang menuntut ilmu yang setinggi-tingginya tetapi juga menekankan cara menuntut ilmu yang baik.

Jadi, dalam menuntut ilmu, harus diniatkan untuk beribadah kepada Allah, bukan untuk tujuan yang lain, seperti mencapai status sosial dan ekonomi tertentu. Kalaupun ada tujuan-tujuan lain, hal ini masih dapat dimaklumi sepanjang semua itu dalam kerangka ibadah. Mari mencari ilmu dengan belajar dan membaca buku 😀 karena orang yang tidak memiliki ilmu ibarat orang buta,berjalan dengan tidak mengerti didepannya dan tidak tahu akan tujuan.

(Edg)
Bidang Kajian Dakwah Islam PD IPM Kulonprogo

Tinggalkan Balasan

×
%d blogger menyukai ini: