Apakah Iman Naik-Turun?

Ketika kamu ditanya oleh seseorang “Apakah iman itu bertambah dan berkurang?” atau  “Apakah iman berbeda-beda tingkatnya antara satu mukmin dengan mukmin lainnya?”. Nah untuk menjwab pertanyaan itu mari kita ketahui terlebih dahulu apa sih iman itu?
Iman adalah pembenaran yang pasti sesuai dengan fakta berdasarkan dalil. Pembenaran yang pasti berarti keyakinan yang pasti yang tidak mengandung rayb (keraguan) dan tidak dimasuki syakk (kebimbangan). Inilah makna iman secara bahasa. Adapun “sesuai dengan fakta” berarti bahwa fakta-fakta yang terindera membenarkan dan tidak menentang keyakinan dimaksud. Lalu agar pembenaran yang pasti itu sesuai fakta harus didukung oleh dalil yang dipastikan kebenarannya. 
Dalil itu: pertama, bisa berupa dalil ‘aqli (rasional). Dalil ini adalah hasil pembahasan rasional pada fakta-fakta yang terindera, seperti pembahasan pada makhluk-makhluk yang terindera untuk berargumentasi bahwa Allah SWT adalah penciptanya; atau dengan membahas kalamullah yang telah diturunkan -yaitu Al-Qur’an al-Karim- untuk berargumentasi bahwa Al-Qur’an itu adalah kalamullah Allah SWT, bukan ucapan manusia. Berikutnya berargumentasi bahwa Muhammad yang datang membawa kalamullah itu adalah rasul dari sisi Allah.
Kedua, berupa dalil naqli, yakni melalui penukilan yang dipastikan berasal dari Allah SWT di dalam kitab-Nya yang mulia atau berasal dari Rasul-Nya saw. dalam hadist mutawatir. Contohnya adalah iman terhadap hal-hal gaib, para malaikat, kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al-Qur’an, nabi-nabi terdahulu, Hari Akhir, qadar baik dan buruknya.
Iman itu adalah lawan dari kufur. Selain orang Mukmin adalah orang kafir secara pasti. Tidak ada setengah Mukmin setengah kafir. Allah berfirman tentang kontradiksi iman dengan kufur dalam QS Ali Imran (3) ayat: 177 yang artinya “Sungguh orang-orang yang menukar keimanan dengan kekafiran sekali-kali tidak dapat memberikan madarat kepada Allah sedikitpun. Bagi mereka azab yang pedih.”
Nah temen-temen ipmawan dan ipmawati sekalian, seperti yang sudah disebutkan bahwa iman sebagai “pembenaran yang pasti sesuai dengan fakta dan berdasarkan dalil” tadi, iman tidaklah bertambah dan tidak berkurang sebab ia merupakan pembenaran yang pasti. Al-Jazmu (kepastian) itu tidak terjadi kecuali dengan sepenuhnya. Jadi tidak ada iman dengan kadar 90%, kemudian bertambah menjadi 95% atau 100%. Sebaliknya, tidak ada iman 100% kemudian berkurang mejadi 95% atau 90%. Alasannya, kekurangan itu berarti tidak pasti (‘adamu jazmi), yakni syakk (bimbang) dan rayb (ragu). Ketika itu terjadi maka tidak menjadi iman, tetapi kufur.
Nah supaya gambarannya lebih jelas, bertambah dan berkurang, menurut bahasa termasuk musytarak. Ia bermakna pertambahan yang bersifat batasan marjinal, yakni dalam hal luas dan ukuran; juga bermakna kekuatan dan kelemahan. Qarinah-lah yang menentukan makna yang dimaksudkan diantara kedua makna itu. Jika pertambahan dan pengurangan dikaitkan dengan iman, maka dalalah (makna)-nya adalah dari sisi kekuatan dan kelemahan (pengaruhnya). Alasannya, pembenaran yang pasti tidak boleh disertai pertambahan atau pengurangan marjinal.
Iman meningkat dan berkurang dengan ketaatan dan kedisiplinan terhadap hukum-hukum syariah, rasa takut kepada Allah  dan jihad di jalan-Nya. Jika tidak, niscaya menjadi tidak pasti dan berubah menjadi syakk dan rayb sehingga menjadi kekufuran. Dalam hadist Rasulullah saw. Sebagaimana dituturkan oleh Abu Hurairah ra. yang artinya “Iman itu tujuh puluh lebih cabang. Yang paling afdhal adalah La illaha illalLah, dan yang paling rendah menyingkirkan duri dari jalan. Sudah diketahui bersama bahwa tidak menyingkirkan duri dari jalan tidak membuat orang sebagai kafir. Oleh karena itu iman yang dimaksud di sini bermakna ketaatan kepada Allah SWT secara umum.
  Kami memohon kepada Allah SWT agar hati kita tenteram dengan iman; agar dalam ucapan dan amal kita, kita berpegang pada hukum-hukum Islam; juga agar Allah SWT mengumpulkan kita bersama orang-orang yang dikaruniai kenikmatan sebagaimana para nabi, ash-shiddiqun, para syuhada, dan orang-orang shalih dan mereka adalah teman yang sebaik-baiknya.
Endang
Bidang Kajian Dakwah Islam
PD IPM Kulonprogo

Tinggalkan Balasan

×
%d blogger menyukai ini: