Move On dari Slogan “Buang Sampah Pada Tempatnya”

Indonesia merupakan penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia. Selain itu, negara kita menghasilkan limbah makanan kedua terbanyak di dunia.

Sementara, tata kelola sampah yang diterapkan adalah kumpul-angkut-buang. Sampah dari tempat sampah akan dikumpulkan lalu diangkut oleh petugas untuk dibuang di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Tata kelola sampah semacam itu, membuat berbagai jenis sampah tercampur menjadi satu di TPA. Hal ini membuat pemilahan sampah yang telah dilakukan terkadang menjadi sia-sia, karena pada akhirnya dicampur begitu saja. Sampah yang tercampur pun tidak dapat didaur ulang karena sudah tidak layak.

Beberapa TPA di Indonesia saat ini sudah overload sampah. Pada 21 Februari 2005, TPA Leuwigajah di Cimahi, Jawa Barat mengalami ledakan besar karena sampah yang tercampur menghasilkan gas metana. Dari kejadian ini, mengakibatkan 157 orang meninggal dunia.

Sampah-sampah yang tidak dikelola dengan baik, pada akhirnya juga akan menumpuk di laut dan merusak ekosistem laut. Sempat ditemukan paus di Wakatobi yang mati akibat memakan 5,9 kilogram sampah.

Sejak kecil, kita sering diajarkan untuk membuang sampah pada tempatnya. Kebiasaan ini sekarang sudah tidak lagi relevan, tapi masih dianggap wajar. Slogan “buanglah sampah pada tempatnya” seakan-akan memperbolehkan kita untuk melakukan konsumsi dengan bebas, menghasilkan sampah dengan bebas, asalkan semua dibuang di tempat sampah. Akibatnya apa? Pada akhirnya, sampah-sampah tersebut akan berakhir di TPA, tanpa dikelola dengan baik. Hal ini tentu akan menimbulkan berbagai masalah baru.

Salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah dengan menghilangkan fungsi tempat sampah. Selama ada tempat sampah, kita akan selalu tergoda untuk menyampah, untuk itu tempat sampah perlu dihilangkan atau dikurangi pemakaiannya.

Bagaimana dengan sampah-sampah yang ada? Sebisa mungkin, kita kurangi konsumsi atau pemakaian barang-barang yang berpotensi menjadi sampah. Mengurangi plastik dengan belanja menggunakan tas sendiri yang bisa digunakan berkali-kali, menghindari barang sekali pakai, atau jajan dengan tempat makan dan minum sendiri.

Kalau di lingkungan kita ada bank sampah, menyetor sampah yang telah dipilah ke bank sampah juga dapat menjadi solusi. Nantinya, bank sampah akan mendaur ulang sampah-sampah tersebut. Tetapi, tidak semua jenis sampah bisa diterima bank sampah, seperti plastik multilayer pada kemasan sachet, atau sampah label harga. Sampah-sampah tersebut dinamakan sampah residu, karena tidak dapat dimanfaatkan lagi.

Kita pun dapat membuat umur sampah lebih panjang untuk mengurangi pembuangan sampah. Hal ini dilakukan dengan mengambil manfaat dari sampah-sampah tersebut, dan membuang hanya bagian yang memang tidak dapat digunakan kembali. Misalnya, membeli wortel dengan tas belanja sendiri. Daginh wortel dimasak, kulitnya bisa dibuat keripik, pangkal/bonggol wortel bisa dijadikan cairan eco-enzyme. Sama sekali tidak menghasilkan sampah. Bahkan, kita bisa semakin meningkatkan manfaat dari sampah-sampah tersebut.

Penulis: Latifah Dewi Purwitasari (Sekretaris Umum PD IPM Kulon Progo)

Tinggalkan Balasan

×
%d blogger menyukai ini: