PLS vs Fortasi

Tahun ajaran baru 2016/2017 diwarnai sejumlah perubahan dari Menteri Pendidikan Nasional terkait kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS). MOS dianggap sebagai sarana perpeloncoan bagi siswa baru. MOS yang sebagian besar diisi oleh siswa tingkat di atasnya menyebabkan adanya ‘balas dendam’ kepada siswa baru. Hal ini akan selalu terjadi setiap tahunnya. Oleh karena itu, Mendikbud Anies Baswedan mengeluarkan peraturan baru terkait kegiatan MOS tersebut.

MOS berubah nama menjadi Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS). Kegiatan ini melarang siswa tingkat atas ikut campur dalam kegiatan ini. Kegiatan ini diisi oleh guru untuk mengenalkan sekolah dan menggali jati diri peserta didik baru. Siswa tingkat atas pada hari pertama masuk sekolah melakukan kegiatan belajar mengajar.

Perlu ditinjau keberadaan Permendikbud nomor 18 tahun 2016 ini. Anies Baswedan yang berlatar belakang Muhammadiyah dapat dikatakan meniru sistem Fortasi yang diinisiasi oleh IPM dan Muhammadiyah. Forum Taaruf dan Orientasi ini diberikan kepada pelajar Muhammadiyah melalui kader-kader IPM. Muhammadiyah sejak awal telah konsisten tidak menggunakan sistem MOS, tetapi menggunakan sistem Fortasi yang lebih humanis. Sistem Fortasi inilah yang memunculkan ide Pengenalan Lingkungan Sekolah.

Namun, ide Pengenalan Lingkungan Sekolah gagasan Anies Baswedan ini masih tertinggal dari sistem Fortasi. PLS mengedepankan kejujuran dan penggalian minat peserta didik baru, sedangkan Fortasi lebih dari itu, yaitu sebagai sarana kaderisasi. Sekolah Muhammadiyah memiliki visi satu langkah lebih maju dibandingkan sekolah negeri dan sekolah lain. Di sekolah lain tidak ada upaya kaderisasi, sehingga sistem MOS masih diterapkan tahun-tahun yang lalu. Sekolah Muhammadiyah memiliki visi kaderisasi sehingga sistem Fortasi telah digunakan sejak tahun-tahun yang lalu.

PLS hanya terfokus pada pengenalan sekolah dan lingkungannya saja, tetapi Fortasi tidak hanya mengenalkan lingkungan sekolah saja. Fortasi mengenalkan Muhammadiyah, sistem perkaderan, dan sekolah Muhammadiyah itu sendiri. Terbukti, bertahun-tahun sekolah Muhammadiyah menggunakan sistem Fortasi yang diisi oleh pelajar Muhammadiyah (siswa tingkat atas) tidak pernah terjadi perpeloncoan, justru merekatkan komunikasi sebagai sarana kaderisasi.

Oleh karena itu, para pengelola sekolah Muhammadiyah tidak perlu takut tetap melaksanakan sistem Fortasi. Sejatinya, Fortasi tidak bertentangan dengan Permendikbud nomor 18 tahun 2016, malah lebih baik dibandingkan gagasan PLS itu.

Tinggalkan Balasan

×
%d blogger menyukai ini: