https://indopolitika.com/wp-content/uploads/2019/07/Cek-Fakta-SALAH-Peringatan-Hari-Anak-Nasional-Se-Jabar-di-Polda-Jabar.png

Waspada Kekerasan Seksual Secara Online

Haloo, Shobs!

FYI aja, hari ini tanggal 23 Juli yang merupakan peringatan Hari Anak Nasional. Kalau yang sebelumnya, tanggal 1 Juni itu Hari Anak Internasional. Menurut Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak Indonesia (KPPAI), peringatan Hari Anak Nasional dimaknai sebagai kepedulian seluruh bangsa terhadap perlindungan anak Indonesia agar tumbuh dan berkembang secara optimal. Jadi, selamat Hari Anak Nasional ya.

Aku kan sudah SMA bukan anak-anak lagi~

Eits, jangan salah. Menurut Badan Kesehatan Dunia alias WHO, anak-anak merupakan orang yang berusia kurang dari 19 tahun, termasuk juga bayi yang masih ada di dalam kandungan. Meskipun kalau menurut UU RI No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak batas usia seseorang disebut anak-anak yaitu 18 tahun (pasal 1 ayat 1). Jadi, secara hukum usia kurang dari 18 tahun masih termasuk dalam kategori anak-anak. Hanya saja setelah usai 10 tahun biasanya lebih sering disebut sebagai remaja. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 25 tahun 2014 meyebut bahwa usia remaja berkisar pada 10-18 tahun, sedangkan dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) rentang usia remaja adalah 10-24 tahun dan belum menikah. Bisa dikatakan usia remaja itu secara hukum perundang-undangan masih termasuk dalam usia anak-anak.

Di masa pandemi ini, berbagai upaya dilakukan untuk mencegah penyebaran dan penularan COVID-19, salah satunya dengan belajar dari rumah. Hal itu mendorong anak-anak untuk menghabiskan lebih banyak waktunya untuk belajar dan bermain secara online. Menurut KPPAI, kondisi ini dapat membuat anak menjadi lebih rentan terhadap berbagai bahaya yang terjadi secara online, salah satunya eksploitasi seksual. Kerena kekerasan seksual ternyata tidak hanya terjadi pada orang dewasa saja, namun juga bisa terjadi pada remaja dan anak-anak.

Selanjutnya, untuk memahami situasi eksploitasi seksual anak secara online di masa pandemi COVID-19, End Child Prostitution, Child Pornography & Tracking Of Children For Sexual Purposes (ECPAT) Indonesia melakukan pemetaan awal terhadap situasi kerentanan anak dari eksploitasi seksual online. Pemetaan ini dilakukan dengan menyebarkan kuesioner online kepada responden yang berada di usia 6 hingga 17 tahun. Terdapat 1203 responden yang terlibat di dalam pemetaan awal yang disebarkan pada tanggal 15 April hingga 26 April 2020. Mereka berasal dari 13 provinsi dengan 74,3 persen berasal dari DKI Jakarta. Hasilnya, ditemukan bahwa 67 persen mengalami peningkatan penggunaan internet dibandingkan sebelum pandemi COVID-19. Sebagian besar responden mengakui bahwa mereka menghabiskan lebih dari enam jam dalam sehari menggunakan internet. 

Koordinator Penelitian ECPAT Indonesia mengatakan bahwa aktivitas yang tinggi di internet ini membuat anak-anak menjadi lebih rentan terhadap eksploitasi seksual di media online. Dari 1203 responden, ternyata ditemukan adanya 287 bentuk pengalaman buruk saat berinternet di masa pandemi ini. Bentuk-bentuk pengalaman buruk yang paling sering dialami meliputi dikirimi tulisan/pesan teks yang tidak sopan dan senonoh (112 responden), dikirimi gambar/video yang membuat tidak nyaman (66 responden) hingga dikirimi gambar/video yang menampilkan pornografi (27 responden). Sehingga ECPAT menyimpulkan bahwa peningkatan penggunaan internet anak pada masa pandemi juga membuat anak semakin rentan terhadap eksploitasi seksual di ranah online.

Lalu, bagaimana cara untuk mencegah terjadinya eksploitasi seksual pada anak (khususnya pelajar) yang dilakukan secara online?

Pertama, jangan ragu untuk bertanya apabila menemukan hal baru di internet kepada orangtua. Orangtua juga perlu tahu informasi yang diperoleh secara online untuk membantu menyaring. Selanjutnya, berhati-hati dalam membagikan biodata dan privasi ke sosial media. Termasuk jangan mudah percaya jika ada orang asing yang menanyakan hal-hal yang pribadi dan privasi. Selain itu, jangan takut untuk menceritakan masalah atau kesulitanmu kepada orangtua termasuk jika menemukan hal-hal yang membuatmu tidak nyaman selama menggunakan internet. Kemudian, jangan merasa malu untuk menanyakan kepada orangtua tentang kesehatan reproduksi remaja, baik antar ayah pada putranya, dan ibu kepada anak perempuannya. Hal ini perlu karena orangtualah lingkungan terdekat untuk mendapatkan informasi. Terakhir, mari belajar untuk bijak dan bertanggungjawab dalam menggunakan internet.

Penulis: Tri Ayu Kharisma (Bendahara PD IPM Kulon Progo), Latifah Alifiana R. (Bidang Organisasi PW IPM DIY)

Tinggalkan Balasan

×
%d blogger menyukai ini: